Anak Indonesia Asli

Home » Artikel » Menempuh Dialog Iran-AS

Menempuh Dialog Iran-AS

Pidato Presiden Iran Ahmadinejad di Universitas Columbia, New York, mendapat respons sangat luas dari berbagai media massa di dunia. Sementara itu, pertemuan DK PBB yang mengangkat tema pemanasan global, khususnya insentif karbon, kalah pamor dengan pidato politik dengan gayanya yang amat memukau itu. Sebenarnya tahun lalu, Muhammad Khatami, mantan presiden Iran, juga diundang ke Universitas Harvard. Tapi, respons media dan publik tidak seheboh kedatangan Ahmadinejad ke Universitas Colombia. Apa yang menjadikan Ahmadinejad sebagai sosok kontroversial saat ini?Sebelum ke Amerika Serikat, Ahmadinejad meminta pemerintah Amerika Serikat untuk bisa mengunjungi bekas menara WTC yang dihancurkan teroris pada 9/11. Tapi, pemerintah Amerika Serikat menolak karena berbagai alasan, di antaranya karena lokasi tersebut sedang direnovasi. Alasan lain yang sudah dimaklumi secara umum oleh publik ialah Iran sekarang menjadi satu-satunya negara yang sedang diincar karena dituding melakukan pengayaan uranium nuklir. Iran juga diduga sebagai penyokong senjata bagi beberapa milisi di Iraq, Lebanon Selatan, dan Palestina.Hingga detik ini, orang nomor satu Iran yang berpenampilan sederhana itu menampik tuduhan tersebut. Menurut dia, Iran menggunakan nuklir bukan untuk tujuan destruktif, melainkan perdamaian. Adapun, tuduhan negara-negara tentang nuklir untuk tujuan destruktif hanya isu politik yang diembuskan pihak tertentu. Hal tersebut tidak bisa dibenarkan secara legal. Hasil temuan tim inspeksi independen nuklir juga membuktikan bahwa teknologi yang menggunakan nuklir kurang dari 5 persen. Itu artinya, tidak ada indikasi nuklir Iran digunakan untuk tujuan destruktif.Dalam hal penyelesaian masalah Palestina, dia meminta agar kemelut politik di negara yang sedang menghadapi konflik internal tersebut diselesaikan melalui mekanisme referendum. Rakyat Palestina-lah yang akan menentukan dan menyelesaikan masalah mereka. Iran senantiasa mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan karena puluhan tahun berada dalam tekanan Israel. Ditanya secara spesifik soal Israel, diplomasi politik Ahmadinejad terbilang lebih tampak karena tidak memberikan jawaban secara gamblang.Kedudukan dan hak perempuan di Iran masih menjadi kontroversi, yang menurut standar hak asasi manusia (HAM) bisa dikategorikan bersebarangan, bahkan tidak menghargai paradigma gender. Perempuan di Iran kerap menjadi korban dominasi patriarki dan ideologi misoginis para tokoh agama.Ahmadinejad memandang bahwa Iran merupakan salah satu negara yang memberikan penghargaan kepada perempuan. Itu dilakukan pemerintah Iran dalam rangka melindungi perempuan. Lebih-lebih ketika ditanya soal Iran yang diduga sebagai salah satu dalang aksi terorisme di berbagai negara di Timur Tengah, dia memberikan keterangan secara jelas. Rakyat Iran secara umum adalah musuh teroris. Setiap aksi terorisme tidak bisa dibenarkan karena meninggalkan luka yang sulit dimaafkan. Selain itu, banyak korban yang meninggal akibat tindakan tidak berperikemanusiaan para teroris.Karena itu, Iran sebenarnya siap untuk berunding kembali dengan pemerintah Amerika Serikat dalam hal penyelesaian masalah-masalah krusial di atas. Sebab, pada hakikatnya, setiap persoalan bisa diselesaikan melalui meja perundingan dan kepala dingin. Iran tidak menutup pintu dialog dengan negara mana pun bahwa beberapa bulan lalu Ahmadinejad telah mengundang George W. Bush untuk melakukan dialog dan debat terbuka untuk memecahkan masalah mutakhir yang melibatkan kedua belah pihak, yaitu Iran dan Amerika.Beberapa pandangan orang nomor wahid di Iran itu tentu membuktikan betapa retorika politik menjadi sesuatu yang determinan dan signifikan. Kendati dicecar dengan sejumlah pertanyaan oleh presiden Universitas Colombia dan sejumlah sivitas akademika, Ahmadinejad tidak pernah menunjukkan reaksi berlebihan. Dia berusaha memberikan jawaban yang sangat simpati sebagaimana layaknya seorang kepala negara. Bahkan, dia menyatakan sangat menghargai kebebasan berpendapat yang ditunjukkan Universitas Kolombia, sebagaimana rakyat Iran juga sangat menghormatinya. Dia secara khusus mengundang para mahasiswa yang ingin mengadakan riset dan dialog dengan sejumlah universitas Iran.Namun, apakah retorika politik Presiden Ahmadinejad akan menyelesaikan kontroversi yang menimpa dirinya? Tentu saja, jawabannya: Tidak. Sebab, politik Timur Tengah yang makin runyam tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan Iran. Dalam hal ini, pihaknya tidak memberikan keterangan yang jelas dan tuntas. Iran masih menyimpan tanda tanya tentang keterlibatannya dalam hiruk pikuk politik di sejumlah negara yang sedang dilanda gempa politik, seperti Lebanon, Palestina, dan Iran. Sebab, hal itu bukan hanya populer di kalangan akademisi di Amerika dan Eropa, tetapi juga mulai dirasakan dengan mudah oleh publik di Timur Tengah sendiri. Pemerintah Israel sudah lama mencium keterlibatan Iran dalam sejumlah kemelut politik di wilayah yang dikenal dengan gurun pasirnya itu.Maureen Dowd dalam Herald Tribune menyebutkan bahwa retorika dan sikap politik elite politik Iran, termasuk dalam upaya pengayaan uranium nuklir, dilakukan untuk membangun prestise. Iran ingin dikenal sebagai salah satu imperium besar yang kurang lebih 2.500 tahun memimpin peradaban dunia. Di sini, prestise melawan prestise yang saat ini dikendalikan negara superpower, Amerika Serikat.Karena itu, menurut Maureen, untuk menjunjung tinggi peradaban, semestinya sikap yang diambil adalah sikap negarawan yang menunjukkan kebesaran sebuah peradaban. Amerika Serikat yang seolah-olah membatasi gerak pemimpin Iran selama kunjungannya untuk menghadiri sidang DK PBB merupakan sikap yang tidak berperadaban. Begitu halnya, retorika politik yang dilontarkan secara bombastik oleh Ahmadinejad kerap menimbulkan ekses cukup negatif bagi bangsa dan umat agama lain. Pernyataannya soal Holacoust sama sekali tidak menghargai perasaan bangsa dan umat lain.Dengan demikian, jalur dialog antara AS-Iran merupakan salah satu jalan keluar terbaik yang semestinya ditempuh kedua belah pihak. Cara-cara kekerasan dengan menggunakan kekuatan militer terbukti menimbulkan masalah yang makin rumit. Selain itu, invasi terhadap sebuah negara merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

penulis : Zuhairi Misrawi, analis pemikiran politik Islam. Kini sedang belajar di Melbourne, Australia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: