August 25, 2008
Apalah arti merdeka kalau masih banyak orang yang merasa belum merdeka. Hakikat dari merdeka sendiri mungkin masih terlalu berbeda jauh dengan kondisi bangsa kita sendiri. Masih banyak anak-anak yang masih belum sekolah. Aku masih sering menjumpai anak-anak yang jadi loper koran, jadi pengamen, jadi pengemis demi membantu orang tua untuk menghidupi keluarga. Ironis sekali. Terkadang mata ini sering kali tak bisa menahan air yang tetes demi tetes memenuhi pelupuk mata. Seharusnya masa kecil mereka tidak demikian. Tidak untuk bekerja mengais receh demi sesuap nasi. Harusnya masa depan bangsa digunakan untuk memenuhi bangku sekolah, untuk menuntut ilmu demi “mencapai planet pluto”. Mereka harusnya mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak demi masa depan mereka, bahkan masa depan bangsa. Siapa yang tahu dari sedemikian banyak anak yang tidak bisa sekolah merupakan calon-calon pemimpin bangsa. Siapa yang tahu dari sedemikian banyak anak ini merupakan calon Einstein-Einstein baru. Merdekakan bangsa ini mulai dari diri kita. Sedikit uang kita layak kita sisihkan demi mereka yang kesusahan. Apalah arti kita mendengung-dengungkan kemerdekaan atau cuma bisa bicara menuntut yang ini-itu tapi tidak mempinyai hati atau kesadaran untuk memerdekakan bangsa. Bangsa ini butuh solusi bukan kritik. Apa arti tuntutan tanpa suatu pemecahan yang kongkrit.
Bersambung…….
1 Comment |
Opini |
Permalink
Posted by fuad148
August 16, 2008
Ketika kita harus merenungi dengan mendalam apa itu arti merdeka, sedikit atau banyak ada sebuah sindiran atau wacana di hati kita apakah negara kita ini sudah merdeka atau belum. Tak ada bedanya memang apakah kita ini sudah merdeka atau belum. Namun dirasa penjajahan secara terselubung tidak menyebabkan penderitaan secara langsung namun penderitan yang justru semakin dahsyat yang menyebabkan kesengsaraan yang berantai. Bayangkanlah kita hidup di bumi yang sungguh-sungguh kaya akan sumber daya alam, namun kita tidak bisa mengolahnya sendiri. Antek-antek penjajah yang dulu sungguh-sungguh biadab, kini apalagi. Apa yang menjadi hak-hak rakyat tak tersampaikan dengan baik. Apalah arti kata merdeka yang selama ini, selama lebih dari setengah abad, selama masa umur Nabi besar Muhammad SAW, selama 63 tahun melekat di spanduk, di banner, di gapura dan di berbagai papan-papan umum itu sebanarnya?? Hanya hati kita yang bisa menjawab, apapun kalau kita ucapkan, kita tidak akan pernah percaya pada diri sendiri apalagi orang lain. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata memang. Namun rasakanlah, renungkanlah apakah arti kata merdeka itu sebenarnya. Kita patut prihatin, para wakil rakyat yang ada di “kursi panas” justru semakin banyak yang “—”, ah bosan menyebutnya. Apakah itu yang dinamakan wakil rakyat. Gaung dari frasa Kebangkitan Nasional yang baru saja didengung-dengungkan pun kini sudah tidak terdengar lagi. Apakah ini yang dinamakan merdeka?? Tentu saja semua itu tidak bisa kita katakan, namun bisa kita rasakan dan kita renungkan. Dan apa yang menjadi kewajiban kita selayaknya kita jalani dengan sebaik-baiknya.
1 Comment |
Opini |
Permalink
Posted by fuad148
March 4, 2008
Seperti yang telah aku perkirakan bahwa karakter para tokoh yang telah dicitrakan dengan sangat bagus di Novel tidak bisa ditampilkan dengan baik di film yang telah diedarkan mulai 28 Pebruari di seluruh Indonesia, bahkan sangat berbeda. Peran Fahri dan Aisha yang sangat lembut dan terima akan keadaan menurutku kurang sukses diperankan oleh FeddyNuril dan Rianti Cartwright. Apa yang mereka perankan terlalu kaku dan tidak sesuai dengan inti dari sifat mereka di Novelnya. Walaupun sang Sutradara mengakui bahwa ada penambahan dan pengurangan di sana sini untuk lebih membuat film menarik, menurutku malah menambah kekecewaan para pembaca novel AAC. Hal yang sangat penting, suasana di Kota Kairo yang kental, yang banyak diceritakan di Novel tidak terasa sama sekali di versi film nya. Bahkan setting tempat selalu berada di dalam ruangan. Sedikit sekali dilakukan di luar ruangan.
Ditilik dari sisi ceritanya, film AAC memang bagus bagi para pemirsa yang belum pernah membaca novelnya. Film itu mengalir dan enak untuk diikuti. Seandainya banyak mengambil setting tempat di Kairo dan sering mengambil tempat di luar ruangan maka film itu akan sangat menarik. Namun, saya cukup senang karena novel yang sungguh bagus, dibuat dalam versi film. Itu sungguh merupakan kepuasan tersendiri.
Leave a Comment » |
Artikel, Opini | Tagged: Opini |
Permalink
Posted by fuad148